Rabu, 16 Agustus 2017

72 Tahun Merdeka? Dari Apa dan Siapa? Beda Nasionalisme Birokrat Masa Kini dan Nasionalisme Para Santri

 Janggutnya sudah mulai meninggalkan dunia hitam. Suara baritonnya menambah wibawa. Di Pesantren, ia dikenal tangkas menjawab pertanyaan wartawan. “Jadi apa arti nasionalisme menurut Bapak?” Tanyanya suatu ketika kepada utusan Pemerintah.

Utusan itu sebelumnya mengutarakan bahwa tim mereka mendapat tugas untuk menyelenggarakan ‘Training Kebangsaan’. “Apa Bapak meragukan ‘nasionalisme’ kami…nasionalisme santri-santri kami…?” protes Kyai yang mulai sepuh itu.  “Jika Bapak meragukan pembelaan kami terhadap negeri ini, silahkan diuji… ‘Bawa masuk’ tentara Amerika ke Indonesia, kami jamin santri kami akan berada di shaf depan untuk menghadapi mereka. Dan saya jamin, birokrat-birokrat yang sok nasionalis itu akan lari terbirit-birit meski setiap Senin hormat bendera.” Lanjutnya berargumen.

Setelah berdiskusi panjang, utusan itu akhirnya ‘setengah menyerah’. Di satu sisi, betapapun ia adalah delegasi yang harus pulang membawa hasil. Gagal dalam sebuah missi, bisa mengancam karir dan ‘periuk’ mereka. Disisi lain, ia juga tak bisa banyak menjawab argumentasi sang Kyai. Akhir kata, disepakatilah sebuah kompromi. Kuliah kebangsaan tetap diadakan; diselipkan dalam sebuah sambutan acara seremonial Pesantren yang kolosal. Bukan dalam bentuk training melainkan pidato dengan durasi sekitar satu jam. Dan untuk mewujudkannya, sang utusan memberikan dana atas nama ‘training kebangsaan’ itu (hehe.. mau juga duitnya). Karena yang memberi kuliah adalah seorang menteri, kawan saya harus meminjam mobil camry ke Pemerintah Kabupaten waktu itu. (wah, harusnya sekali-kali diajak jalan kaki ya..)

Tapi itu cerita beberapa tahun lalu. Dan kini, upaya mereduksi ‘arti cinta tanah air’ kembali mencuat. Seorang Bupati yang konon dulu adalah seorang guru; dan konon sekolah tempat ia mengajar kini sedang tak mendapatkan murid, tiba-tiba menebar ancaman hendak menutup sebuah SDIT yang mulai maju; sebuah sikap yang jauh dari pribadi mantan seorang guru. Seorang walikota yang terkenal santun dan berpihak kepada wong cilik, juga tiba-tiba mengumbar ancaman akan menutup sebuah SDIT. Semua atas sebab tak menjalankan upacara bendera. Beberapa pesantren di luar jawa, juga mulai mendapat tekanan serupa meski tak diwartakan di surat kabar. ‘Hormat bendera’ kini menjadi indikator penting loyalitas seseorang kepada bangsanya. Kita kembali dibawa ke alam Orba.

Menarik, sebab ‘tebar ancaman’ ternyata hanya tertuju pada beberapa sekolah tertentu. Betapa banyak institusi pendidikan di negeri ini yang tak menggelar upacara bendera dan tak pernah disoal? Hal ini mengingatkan kita Januari lalu dimana sebuah lembaga bernama ‘Setara Institute’ mengklaim telah melakukan riset atas TKIT dan SDIT.

BACA JUGA  Bachtiar Nashir: Indonesia Belum Merdeka, Jika Belum Berkeadilan Sosial

Simpulannya, TKIT dan SDIT telah mengajarkan benih radikalisme Islam karena sering melombakan nasyid jihad Palestina. “Lagu-lagu jihad itu mengancam NKRI dan bertentangan dengan Pancasila. Kenapa tidak pakai lagu-lagu perjuangan Indonesia?” kata Ismail Hasani, sang peneliti yang tak jelas jasanya kepada bangsa ini. “Jadi kita harus waspada..!” katanya penuh curiga. Statement yang muncul dalam paket acara “Deradikalisasi” di hotel Atlet itu, tak memerlukan penjelasan panjang tentang siapa dan mau kemana arah diskusi itu.

Padahal banyak pelajaran penting soal Ujian Pertahanan di negeri ini. Saat organisasi separatis RMS beraksi di Maluku, oknum yang adalah orang penting di Badan Intelejen sowankepada sesepuh jihadis. Ini tentu bukan cerita koran, tapi cerita behind the scene yang bersumber dari pelaku. Sang Intel meminta bantuan agar aktifis jihadis membantu Negara untuk menghadapi kelompok separatis itu. “Segala sesuatunya akan kita siapkan Pak…” bujuk sang intel. Sesepuh itu menjawab, “Maaf, kami tidak biasa beramal atas dasar order. Kami hanya beramal lillahi ta’ala.” Para aktifis jihadis ternyata sudah ada di lapangan karena Allah semata. Oknum Intelejen yang dulu sering nongol di media itu menanggapi, “Baik, jika Bapak tidak bersedia kami akan meminta aktifis yang lain.”

Jadi bahwa mental pembelaan Negara itu dimiliki ‘kelompok santri’ bukanlah rahasia. Birokrat sangat mengerti akan hal itu. Sejarah menunjukkan negeri ini dibangun oleh tetesan darah santri. Sebuah komunitas perwira nan ikhlas. Kelompok yang tak berharap pamrih kecuali ridha ilahi. Sebuah komunitas yang menggariskan hidupnya dalam dua kalimat: ‘Hidup mulia atau Mati Syahid’. Sayang banyak orang memanfaatkan  ‘keikhlasan’ santri selama ini.  Bukankah doktrin jihad terbukti paling unggul melawan Belanda? Dalam khazanah kita, ada Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pengeran Antasari, dan lain-lain. Term ‘Jihad’ sebagai spirit perlawan mereka terekam apik dalam buku-buku ‘babad sejarah’ negeri ini. Saat kemudian Belanda hengkang, para pejuang sejati kembali ke surau-surau. Sebaliknya, para tentara yang masa itu adalah output didikan Belanda dan Jepang justru tampil memimpin negeri bak pahlawan kesiangan. Santri, ternyata hanyalah sebuah komoditas.

Saat aktifis jihadis berjibaku menghadapi RMS, Petugas Keamanan bersembunyi di kolong-kolong seperti burung pipit sambil berkata, “Mas, tembak-menembaknya sebelah sana saja biar tidak kena saya”. Ini cerita mujahidin kepada saya. Saat aktifis jihadis gugur tertembus peluru RMS, Para Birokrat kita asik berselingkuh dengan bangsa-bangsa penindas. Mereka sibuk menjual aset-aset Negara yang oleh Stiglitz (mantan Ketua Tim Ekonomi Bank Dunia) dijelaskan sebagai ‘penjajahan sistemik.’ Stiglitz akhirnya ‘tidak tahan’ dan menulis testimoninya dalam “Globalization And Its Discontents”. Ia ternyata masih punya nurani. Bukankah bangsa ini sudah mulai melupakan perampokan atas nama ‘privatisasi’? Apa kabar Semen Gresik gate, Krakatau Steel gate, Telkom gate, dan Indosat gate? Hampir bisa dipastikan (sebagaimana dituturkan Stiglitz) bahwa dalam setiap ‘privatisasi’ ada 10 % masuk ke kantongdecision maker? Dan yang pasti, para mekelar hitam itu adalah cumlaude dalam melafalkan Pancasila dan khusyu’ dalam upacara bendera.

BACA JUGA  Sambut HUT RI ke-72, UBN Ajak Umat Islam Sholat Subuh Berjamaah

Penjajahan memang hanya berganti model. Kita semua sepakat bahwa sesungguhnya kita belum pernah merdeka. Bukankah pembukaan UUD Negara ini mencantumkah bahwa Indonesia baru sampai ‘di pintu gerbang kemerdekaan’? Yang harus kita ingat, bahwa penjajah tidak akan langgeng tanpa dukunganbegundal lokal. Belanda bisa bertahan menjajah selama 350 tahun, karena ulah demang dan bupati. Mereka para-para begundal yang hanya memikirkan perut dan kelompoknya. Agaknya, kita belum beranjak jauh dari situasi itu. Tambang minyak dan emas kini berganti pemilik dengan ‘bangsa kulit putih’ sebagai tuan. Aset potensial dijual murah ke bangsa-bangsa asing. Kita tak memiliki kemandirian politik dan ekonomi. Kita menjadi buruh di negeri sendiri. Dan siapa lagi para bandit itu kalau bukan yang rajin berupacara bendera?; memparadekan ke-khusu’an nasionalisme tapi hatinya penuh dengan kemunafikan?

Ironis. Kini, saat Birokrasi gagal mendapat kepercayaan masyarakat di sekolah dasar; yang membuat sekolah-sekolah negeri tak mendapatkan siswa, komunitas santri kembali terpanggil membangun bangsanya. Sebagian sekolah yang semula hampir ambruk disulap menjadi sekolah-sekolah unggulan dan favorit. Umumnya kemudian menjadi TKIT atau SDIT dengan pola fullday school. Lokal yang dikelola, bahkan kini tak sanggup menampung luapan siswa. Karena keikhlasannya, banyak dari mereka yang digaji di bawah UMR. Sungguh, sebuah penghayatan kebangsaan yang dalam istilah sufi bukan lagi berlevel syariat tapi sudah hakekat. Pada saat yang sama, para birokrat itu punya keasyikan memainkan anggaran sambil berpikir ‘adakah tipe mobil baru yang belum aku beli?’. Dan kini, para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ sedang disoal kecintaannya kepada bangsanya karena muridnya tak hafal Pancasila?

Ya, tapi para guru itu memang ‘berdosa’ karena mengajarkan nasyid Palestina. Tapi agaknya, itulah cara mereka menjauhkan anak didik dari mental para maling. Dan itulah ‘ilmu hakekat’. Para koruptor ternyata lebih berharga bagi negeri ini.

Merdekaaa!!!

 

Selasa, 15 Agustus 2017

Perkeretaapian Di Indonesia, Khususnya Di Jabodetabek

PT KAI Commuter Jabodetabek adalah salah satu anak perusahaan di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengelola KA Commuter Jabodetabek. KCJ dibentuk sesuai dengan Inpres No. 5 tahun 2008 dan Surat Menteri Negara BUMN No. S-653/MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008.

Pembentukan anak perusahaan ini berawal dari keinginan para stakeholdernya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi masalah transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Perseroan ini resmi menjadi anak perusahaan PT KERETA API (Persero) sejak tanggal 15 September 2008.

Kehadiran KCJ dalam industri jasa angkutan KA Commuter  bukanlah kehadiran yang tiba-tiba, tetapi merupakan proses pemikiran dan persiapan yang cukup panjang. Dimulai dengan pembentukan Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek oleh PT KAI (Persero), yang terpisah dari PT KAI (Persero) Daop 1 Jakarta.

Setelah pemisahan ini, pelayanan KRL di wilayah Jabotabek berada di bawah PT KAI (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek sementara pelayanan KA jarak jauh yang beroperasi di wilayah Jabodetabek berada di bawah PT KAI Daop 1 Jakarta.

Dan akhirnya PT KAI (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek berubah menjadi sebuah perseroan terbatas, PT KCJ. Setelah menjadi perseroan terbatas, perusahaan ini mendapatkan izin usaha No. KP 51 Tahun 2009 dan izin operasi penyelenggara sarana perkeretaapian No. KP 53 Tahun 2009 yang semuanya dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia.

Tugas pokok perusahaan yang baru ini adalah menyelenggarakan pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter dengan menggunakan sarana Kereta Rel Listrik di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang.

KCJ Memulai modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011 dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi lima rute utama, penghapusan KRL ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi kereta Commuter Line. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta yang dilakukan bersama PT KAI (persero) dan Pemerintah.

Pada 1 Juli 2013. KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik (E-Ticketing) dan sistem tarif progresif. Penerapan dua kebijakan ini menjadi tahap selanjutnya dalam modernisasi KRL Jabodetabek.

Hingga Oktober 2016, KCJ telah memiliki 826 unit KRL, dan akan terus bertambah. Sepanjang tahun 2016, KCJ telah melakukan penambahan armada sebanyak 60 kereta. Hal ini untuk memenuhi permintaan penumpang yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Pada tahun 2016, rata-rata jumlah pengguna KRL per hari mencapai 850.000 pengguna pada hari-hari kerja, dengan rekor jumlah pengguna terbanyak yang dilayani dalam satu hari adalah 931.082. Sebagai operator sarana, kereta Commuter Line yang dioperasikan KCJ saat ini melayani 72 stasiun di seluruh Jabodetabek dengan jangkauan rute mencapai 184,5 km.

Dengan mengusung semangat dan semboyan Best Choice for Urban Transport , KCJ saat ini terus bekerja keras untuk memenuhi target melayani 1,2 juta penumpang per hari pada tahun 2019.

Introspeksi Bagi yang Mengaku Satu-satunya Pembawa Misi Salaf

DILARANGNYA PEMBANGUNAN MASJID “SALAFI”, SAATNYA INTROSPEKSI DIRI...

[ Antara Ingin Membela & Sikap Standar Ganda; Sebuah Opini & Nilai Evaluasi ]

✍ Oleh: Maaher At-Thuwailibi.

=> Warga NU adalah masyarakat muslim lokal yang secara turun-temurun telah memberikan sumbangsih kepada bangsa ini lewat Resolusi Jihad NU yang dipelopori oleh KH.Hasyim Asy’ari Rahimahullah pada tanggal 22 oktober 1945. meskipun pada praktek keagamaan dan manhaj pemikiran di era modern, komunitas NU sendiri kini terpecah menjadi dua kubu besar yaitu NU yang beraviliasi pada Said Aqil Siraj (PBNU) atau kalangan yang menamakan diri mereka sebagai kelompok “Islam Nusantara”, kemudian NU yang beraviliasi pada KH.Luthfi Bashori, Buya Yahya, dan KH.Muhammad Idrus Romli yang menamakan diri mereka dengan komunitas “NU Garis Lurus”.

Namun fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah, bahwa mayoritas masyarakat NU merupakan komunitas muslim terbesar di indonesia yang secara teologis menganut aqidah asy’ari, fiqih syafi’i, dan tashawwuf ghazali_

=> Beberapa waktu lalu terjadi peristiwa yang cukup menghebohkan; masjid Imam Ahmad Bin Hanbal di Jl.Pandu Raya, Kecamatan Tanah Baru Kota Bogor yang terkenal sebagai pusat kajian Salafi untuk wilayah Bogor yang di pimpin oleh Ustad Yazid Bin Abdul Qadir Jawas di SATRONI MASYARAKAT setempat. Warga sekitar memaksa untuk menghentikan aktivitas pembangunan masjid itu karena selain terdapat silang pendapat dengan warga terkait masalah pada perizinan, juga di anggap sebagai tempat pengajian yang suka membid’ahkan & memvonis sesat amalan masyarakat NU sehingga membuat sakit hati warga sekitar.

=> Disatu sisi, kritik pun berdatangan dari banyak fihak atas peristiwa itu. tidak sedikit orang yang mengecam tindakan ratusan masa yang melakukan aksi anarkis menghalangi pembangunan masjid dengan cara yang sangat brutal; dengan memaksa memasuki lokasi pembangunan masjid dan kemudian keluar lagi. Lalu melempar batu dan menendang serta merusak pintu pagar proyek. Bahkan, sejumlah massa itu merusak dan mengambil banner nasihat kebaikan untuk pembangunan masjid, mereka juga melontarkan caci-maki dan mengancam akan melakukan pembakaran apabila kegiatan pembangunan masjid tidak dihentikan. Jelas ini tindakan yang zhalim dan melanggar norma agama. masyarakat NU bukanlah masyarakat yang tak beradab, tapi NU adalah sekelompok kaum muslimin di negeri ini yang lahir dari rahim para kyai dan tokoh-tokoh agama serta pendiri bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat dan budaya ketimuran. yang kita khawatirkan adalah, adanya fihak-fihak tertentu yang mengambil keuntungan atas kejadian ini. Suka atau tidak, di akui atau tidak, komunitas Salafi dan warga NU adalah sama-sama bagian dari KAUM MUSLIMIN. Adanya ruang perbedaan antara SALAFI-NU jangan sampai membuka peluang bagi anasir-anasir PKI dinegeri ini untuk menjalankan strategi devide et impera (politik adu domba).

=> Memelihara jenggot dan bercelana cingkrang/diatas mata kaki kita sepakati sebagai suatu hal yang baik bila diniatkan mencontoh dan meneladani baginda Nabi. namun di sisi lain, kawan-kawan bercelana cingkrang dan berjenggot ini (Salafi) rata-rata suluknya/akhlaqnya perlu dirsewa evolusi (baik Ustadznya maupun para pengikutnya). disadari atau tidak, demikianlah adanya. Jangankan dengan warga NU, antar pemelihara jenggot dan pengguna celana cingkrang saja susah sekali bertegur sapa dan saling membangun cinta. alasannya, tidak se-manhaj. asal sudah tidak sepengajian atau seperguruan, maka keluarlah ucapan: “bukan ikhwan kita...”. Oleh karena itu tidak berlebihan juga jika banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan gaya dan tingkah laku kawan-kawan “Salafi” ini di tengah masyarakat, sebab sikap merekalah yang membuat masyarakat ILLFEEL dan tidak respek dengan mereka. Dan wajar pula jika mereka dijuluki “sekte surgawi” alias panitia pemegang kunci surga atau dijuluki TALAFI (kaum perusak). sejatinya, bukan ideologi dasar mereka yang dianggap rusak, tetapi AKHLAQ dan SIKAP MUAMALAH sebagian diantara mereka yang rusak. Sedangkan Rasulullah di utus ke permukaan bumi ini diantara tujuannya adalah memperbaiki akhlaq.

=> Yang tak habis fikir, sikap sebagian besar kawan-kawan Salafi ini yang tidak pernah berubah sedari dulu (termasuk para asatidznya). Sikap gampang membid'ahkan, memvonis syirik dan menyesat-nyesatkan ritual kaum lain, ini yang menjadi masalah. Saya mengamati dalam waktu yang lama, bahwa persoalannya bukan pada substansi IDELOGI yang disuarakan para ustadz Salafi, tapi lebih kepada Uslub (metodologi dan fiqih dakwah).

Betapapun kawan-kawan ‘Salafi’ berhak mendakwahkan apa yang mereka yakini benar, dan itu dilindungi undang-undang. tapi tentunya dengan sportif, santun, menjunjung nilai-nilai adab dan tata krama, tidak main vonis sesat, mendiskreditkan amalan orang lain, merusak nama baik tokoh-tokoh agama yang dihormati masyarakat, dan yang paling penting membuka ruang dialog serta berlapang dada terhadap perselisihan yang sudah menjadi dinamika kehidupan_

=> Ketika fihak-fihak yang ingin menengahi berupaya membantu mencarikan solusi melalui pertemuan dan duduk bersama, mereka pun menolak. alasan klasik yang selalu mereka kemukakan adalah doktrin untuk tidak berdebat/dialog dengan “ahlul bid’ah”. Padahal, Allah sendiri dalam Al-Qur’an memerintahkan dialog, diskusi, dan lain-lain selagi dengan cara yang ma’ruf dan hikmah. Dan hal ini ternyata di praktekkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu'ahuma dan terukir dalam sejarah dimana beliau mendebat ahlul bid’ah yang paling sesat dalam peradaban islam (yaitu kelompok khawarij). Lalu, mengapa sebagian kawan-kawan ‘Salafi’ ini sulit sekali membangun komunikasi yang baik dan membuka ruang dialog.!?? Katanya menganut Manhaj Salaf ??

=> Hal yang tak kalah menarik adalah, ketika kawan-kawan ‘Salafi’ ini saling mengirim broadcast di berbagai media sosial semisal Telegram, WhatsApp, dll untuk menghimbau anggotanya atau sesama jama'ahnya agar datang membantu mengamankan area masjid dari serangan warga. bahkan, mereka menganggapnya itu bagian dari JIHAD FII SABIILILALH. Akhirnya para jama'ah masjid dari kalangan kawan-kawan ‘Salafi’ pun merapat ke TKP dan pasang badan di hadapan masjid. Seolah mereka sudah tak sabar “berjihad melawan warga NU setempat dan mempertahankan kesucian masjid” 😃

Maka untuk melawan lupa, mari kita ingatkan kembali fatwa ulama dan ustadz-ustadz ‘Salafi’ ini terkait cara & sikap yang seharusnya dilakukan saat ada serangan Zionis Israel ke Masjid Al-Aqsho & Masyarakat Palestina:

1. TIDAK ADA JIHAD YANG HAQ DI ZAMAN INI. Karenanya, kalian tidak boleh membela diri saat diserang warga setempat apalagi mati disitu. bisa mati konyol, bukan mati syahid. (fatwa Riyadh Bajery).

2. TIDAK BOLEH MELAWAN BALIK. Karena, tanah di Bogor masih luas. Carilah tanah yang aman alias Hijrah! Emangnya, masjid cuma itu saja? (Pernyataan Oknum Salafi bernama Yasser Al-Ayyubi).

Kita bukan su’uzhon (buruk sangka). Tapi kita hanya menyampaikan kembali apa yang ulama dan sebagian ustadz-ustadz 'Salafi’ sampaikan saat Masjidil Aqsho di Palestina di intimidasi oleh Zionis Israel 😊 dan kami pasti lebih percaya kepada tanah Palestina, karena Rasulullah bersabda tentang tanah Syam yang diberkahi. bukan tanah baru apalagi tanah Bogor, itu tidak ada haditsnya. Alias BID’AH ! 😊

Mungkin anda akan mengatakan “Buat apa hijrah, toh Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal itu kan resmi dan ada izinnya!”

Jawaban kami, lah emang anda pikir Palestina itu tanah warisan dari kakek moyangmu apa!??  Nyuruh-nyuruh masyarakat muslim Palestina hijrah dari negaranya sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa anda dan kawan-kawan tidak hijrah saja????

=> Yang lebih unik lagi, sudah maklum di mata masyarakat bahwa komunitas ‘Salafi’ ini paling getol mengharamkan demonstrasi (apapun bentuknya). tidak perlu mungkir, karena semua tulisan-tulisan para da'i ‘Salafi’ itu dengan mudah bisa di akses oleh masyarakat dengan berbagai teknologi dan media yang serba canggih, dan semua ceramah-ceramah para juru dakwah “Salafi” yang mengharamkan demonstrasi itu pun dengan mudah didengar.

ENTAH disadari atau tidak, ternyata mereka pun telah melakukan aksi de DEMONSTRASI (unjuk rasa). Karena menyatakan dukungan pembangunan masjid dan menjaganya dari gangguan sekelompok masa dengan mengumpulkan banyak orang untuk pasang badan di depan masjid, itu merupakan bentuk aplikasi UNJUK RASA (unjuk perasaan), dalam bahasa konstitusional disebut: DE-MON-STRASI.!

Akhirnya mereka tanpa sadar mengakui bahwa aksi mereka adalah bagian dari demonstrasi, padahal selama ini mereka mengharamkannya dengan berbagai dalih untuk mendalili kebingungan cara berfikir mereka. Mereka mengharamkan aksi demonstrasi damai menuntut keadilan atas penghina Al-Qur’an, namun anehnya justru mereka menyerukan demo untuk membela masjid yang akan di pakai untuk ‘dakwah’ mereka. Inilah hizbi sejati yang berteriak-teriak hizbi kepada orang lain di luar kelompoknya, haram demo buat orang tapi halal buat dia. maling teriak maling sembunyi di balik dinding, waktu di ekspose lari terkencing kencing_

=> Saya (Maaher At-Thuwailibi) menilai, bukan pada sisi ilmu yang menjadi letak problem kawan-kawan dan asatidz Salafi ini di berbagai tempat, tetapi pokok masalahnya adalah pada SIKAP MUAMALAH dan AKHLAQ DALAM MEMBANGUN KOMUNIKASI, baik di alam nyata maupun di dunia maya. Sisi inilah yang saya amati sebagai suatu hal yang kritis dan kronis dalam tubuh mereka. Para Nabi dan Rasul di tolak dakwahnya bukan karena Akhlaq mereka, tapi karena apa yang mereka bawa (tauhid). Sementara kita ini justru ditolak karena akhlaq dan uslub yang justru tidak sesuai dengan nilai-nilai teladan SALAFUS SHOLIH itu sendiri.

Maka saran dan masukan dari saya secara pribadi untuk kawan-kawan dan asatidz salafi dimana pun antum berada, mari kita ISTIQOMAH menyampaikan ideologi dan prinsip agama yang kita yakini benar, tetapi juga mari kita sama-sama muhasabah (introspeksi diri) dan mengevaluasi uslub dakwah kita sebagai kaum minoritas di tengah masyarakat Indonesia yang umumnya menganut aqidah asy’ariyyah dan fiqih syafi’iyyah.

Semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada kawan-kawan ‘Salafi’ ini, semoga fanatismenya yang jadi korban segera sadar dan masyarakat semakin cerdas melihat fakta demi fakta yang semakin menunjukkan mana madu dan mana empedu...

Nas'alullah Al-‘Aafiyah wa salamah...

[ Pustaka At-Thuwailibi Channel ]

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

Benteng Ajyad yg Telah Berubah Jadi Sarang Bisnis Yahudi Di Jantung Makkah

Catatan Azzam Mujahid Izzulhaq

9 Agustus 2017
07.13 (TL.FB.)

Tepat di depan Masjidil Haram, dulu berdiri kokoh sebuah benteng penjagaan kota Makkah yg bernama Benteng Ajyad yg dibangun pada tahun 1781 pada masa Kekhalifahan Utsmaniyyah. Benteng ini kemudian dihancurkan tahun 2002. Dan sebagai gantinya, berdirilah menara tertinggi ketiga di dunia yg diberi nama Abraj Albait.

Saya tidak ingin masuk ke ranah pembahasan simbol-simbol yg subyektif. Mari masuk ke ranah fakta obyektif saja.

Abraj Albait adalah bangunan tinggi, megah dan mewah yg terdiri dari beberapa 7 tower, diantaranya:

1. Makkah Royal Clock Tower, ini adalah tower utama yg di atasnya dibangun jam digital raksasa. Di bawahnya ini adalah bangunan yg difungsikan untuk Fairmont Hotel.
2. Hajar Tower, difungsikan untuk Mövenpick Hotel
3. Zamzam Tower, difungsikan untuk Pullman Hotel
4. Safa Tower, difungsikan untuk Raffles Makkah Palace Hotel
5. Marwah Tower, difungsikan untuk Marwa Rayhaan by Rotana Hotel
6. Al Maqam Tower, difungsikan untuk Swissotel Hotel
7. Qibla Tower, difungsikan juga untuk Swissotel.

Selain untuk hotel dan apartemen,  Abraj Albait adalah pusat perbelanjaan (mall) serta sentra makanan (food court and restaurant), tempat shalat (mushalla), perpustakaan, ruang observasi untuk kepentingan hisab dan rukyat, dan lain sebagainya.

Mana yg ramai dikunjungi? Tidak lebih dan tidak bukan adalah pusat perbelanjaan, hotel dan restorannya saja. Sementara Mushalla agak miris memang, jika masih saja menjadi alternatif pertama dengan alasan 'sudah penuh' dan malas kepanasan menuju Masjidil Haram yg di depan mata.

Apa yg lebih memiriskan?

Di pusat perbelanjaan di Abraj Albait inilah dijual gerai dan produk yg erat hubungannya dengan Zionis Israel seperti Starbucks, Mont Blanc, dan produk retail lainnya. Tidak cukup hanya retail, tower utama Abraj Albait, yakni Makkah Royal Clock Tower adalah tower yg khusus diperuntukkan untuk Fairmont Group. Baik untuk hotel di lantai 1-27, ataupun untuk Gold Lounge-nya di lantai 28-28G.

Apa dan siapa Fairmont?

Fairmont adalah jaringan bisnis hotel dan hiburan besar di dunia. Pemiliknya adalah Benjamin Swig, seorang Zionis yg juga adalah seorang banker kenamaan dunia. Selain jaringan hotel bintang lima di dunia, Fairmont juga berbisnis casino di Monte Carlo, Las Vegas, Singapore, dan lainnya. Ada hubungan dan deal apa Raja Abdullah ibn Abdulaziz dengan keluarga atau anak buahnya Benjamin Swig, sehingga Fairmont bisa eksis dan kokoh di depan Rumah Allah?

Bagi saya cukup mencengangkan. Dimana sejatinya tempat berdirinya Abraj Albait ini adalah Tanah Suci, Tanah Haram, yg haram bagi non muslim berada di atasnya. Namun, nyatanya hingga detik ini justru adalah di atas Tanah Haram berdiri mesin uang bagi Zionis Israel. Sementara, bangunan-bangunan sejarah dihancurkan dengan alasan menjaga kemurnian tauhid. Menyedihkan, bukan?

Dimana rumahnya Ayahanda Abdullah dan Ibunda Nabi Siti Aminah? Sekarang menjadi perpustakaan yg juga tidak pernah buka sama sekali. Dimana rumah Abu Bakar dan Utsman, kini telah menjadi bangunan Hilton Hotel. Dimana benteng Ajyad tempat tentara Kekhalifahan berdiri tegak menjaga kesucian Masjidil Haram dan Makkah Al Mukarramah? Kini telah menjadi mesin uang Zionis Israel dengan hotel, restoran, minuman, parfum dan barang mewah yg harganya wah.

Bukannya ini hanya muamalah biasa?

Fenomena ini ada pula yg menganggapnya biasa, sebagaimana Sang Raja dulu juga menganggapnya biasa. Halal. Muamalah katanya. Saya menanggapinya dengan mengurai fakta juga bahwa dulu Syarif Husein menerima 7 juta Poundsterling juga beralibi itu uang halal. Hadiah dari Inggris katanya. Demikian juga Ibnu Saud saat menerima ratusan ribu pondsterling per bulan juga dengan alasan halal. Jizyah dari Inggris katanya. Tapi apakah 'hadiah' dan 'jizyah' itu demikian bersih adanya? Sejarah dan fakta sekarang mengatakan tidak.

Ini bukan masalah halal atau haram. Ini masalah propaganda. Jika produk halal dari produsen umat Islam masih ada, kenapa harus membeli produk Zionis sana? Jika Al Marwa Rayhaan Hotel harga dan fasilitasnya sama, kenapa harus ke Fairmont? Jika mengenakan parfum Abdul Somad Al Qurashi atau Arabian Oud itu wangi, mewah dan harganya sama, kenapa harus memilih Mont Blanc? Jika minum kopi di gerai pemilik Muslim sama, kenapa harus ke Starbucks? Jika belanja di Bin Dawood itu bisa, kenapa memilih belanja di Gazzaz? Kecuali tidak ada alternatif, bolehlah. Ini alternatif masih banyak. Tidak perlu kemudian mengundang Zionis Israel menginjak tanah suci, bahkan tepat di depan Masjidil Haram.

Saya marah, kecewa, lalu kemudian menangis sejadi-jadinya jika sedang berada di kawasan ini.

***
Kemudian apa yg bisa kita lakukan adalah bersoa dan berupaya. Kita meminta kepada-Nya agar segala bentuk kezhaliman, penistaan, propaganda dan penipuan di Tanah Suci segera berakhir sambil melakukan ikhtiar optimal dari apa yg kita bisa. Upaya #BoikotProdukYahudi masih dirasa cukup efektif. Maka lakukan. Ajak sebanyak mungkin umat Islam agar mengerti, memahami dan turut serta.

Kita ke Tanah Suci adalah untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Bukan untuk membuat Zionis Israel dan semua pendukungnya semakin kaya, semakin durjana.

La ilaha illaLlahul 'azhimul halim.
La ilaha illaLlahu rabbul 'arsyil 'azhim.
La ilaha illaLlahu rabus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil karim...

*insert picture: Benteng Ajyad saat berdiri kokoh dari 1781 hingga 2002. Kini, bahkan puingnya pun sudah tak ada.

Al Haram, 3:13 AM

#AMI
#SelamatkanDuniaIslam
#LintasanPikiran

Waiting List Haji dan Fenomena Umrah

Itulah sebabnya wlp trmsk rukun Islam, ada catatan: bg yg mampu. Bgitu bnyk hambatan bagi calhaj,  mulai dr biaya (asal dan penggunaannya), policy haji,  kesehatan, kuota,  dsb, dan Allah Mahatau.

Kuota Haji pertahun hny 1/1000 dr jumlah umat Islam. Itu artinya dlm 1 ABAD hny < 100/1000 yg sempat berhaji ato kurang dr 10%.

Adakah dalil mampu berhaji itu adalah: Sekarang bayar 2/3 BPIH dan sisanya 10-20 lagi?

Saya kasih tau kpd Joko dan yg sepaham dgnnya:
1. Ibadah haji tidak perlu pakai sistem daftar tunggu
2. Dana haji yg sdh msk tidak perlu dioptimalisasikan utk istilah lain diputarkan dulu.

Saya mau bertanya kepada sahabat yg sdh dpt no porsi haji:
Apakah sahabat rela dana pada sahabat diinvestasi utk infrastruktur krn terjamin aman?

Saya hanya heran dgn logika pemerintah setelah berhasil menjebak umat Islam dalam sistem batil waiting list yg penuh dusta,  kini bicara AMAN,

masalahnya seharusnya pemerintah ga usah repot2 'selingkuh' dana haji hrs dioptimalisasikan.

Berani adu argumen?  Saya tunggu!

Adakah dalil krn lama menunggu saat haji,  lalu umrah dulu?

Umat Islam secara ber-sama2 seharusnya kompak menolak setidaknya mayoritas menolak, jgn termakan tipuan mrk seolah ibadah haji itu hukumnya WAJIB,  tnp syarat,  padahal jls syaratnya klo mampu pada tahun keberangkatan,  bukan mampu saat ini. Th keberangkatan 10 th lagi, berarti wajibnya 10 th lg, lalu knp skrg lbh 2/3 nya biaya sdh dlm penguasaan mrk shg calhaj 'maju kena mundur kena'.

Klo alasan utk optimalisasi dll shg mrk 'wajib' memutarkan dulu dana yg sdh terkumpul,  mk seharusnya dana yg digunakan terpisah,  bukan bgn dr BPIH, tp dr akumulasi dana yg terpisah spt dana abadi umat,  yg bisa dipakai dulu,  kmd dikembalikan lagi ktk calhaj sdh melunasi sekaligus, th ini byr,  thn ini berangkat! Gilanya si Joko yg tadinya diinvest jngka pendek diubah jd jngka panjang 10 th dg dalih sbgn bsr masa tunggu sdh  lbh dr 10 th jd bisa diputar dulu. Pdhl jd panjang krn umat termakan jebakan mrk juga 😈😈😈

Umat hrs berani menolak skenario waiting list (WL),  kita tetap menabung tp jgn mau digiring msh rekg Kemenag, klo perlu investasi sendiri atau berkelompok yg bnr2 slg percaya.   bersamaan itu adakan gerakan penolakan secara massive, jgn tergoda umroh,  tp gunakan bersama2 utk mpkuat ekonomi umat sementara menunggu sistem yg normal berjalan dgn berbagai usaha, pendidikan beasiswa yg tak menadahkn tangan pada pemerintah usaha2 bukan sekadar pengecer tp industri hulu ke hilir atas nama umat, toh pangsa pasarnya saudara kita juga. Biar untung tipis tp kita menguasai pasar bukan cuma retail,  semua jns ush antiriba mengangkat saudara kita dr kehinaan dijadikan kacung cina,  ninggalkan solat,  dst 👍👍👍👍👍

Maaf saya tidak menyalahkan yg berumrah secara pukul rata, hny yg saya liat bgini: Sampai tahun 2003 keberangkatan haji ga ada masalah. Pelayanan di tanah suci mmg blm spt skrg.  Saya msh merasakan sekamar 10-12 org dg kasur tipis dilantai yg hny disekat kopor besar antar jamaah,  jd ada km utk lelaki dan prp,  km mandi pun antre klo kita ga gunakan lbh awal ato nunggu sepi (1-2 jam sblm wkt solat). Terus dr dulu saya sdh dgr Dana Abadi Umat yg sempat heboh,  hny hgg kini saya ga tau asal usulnya, jlhy dan pruntuk'y. Trus kmenag meniru Mal & Turki dg waiting list (WL) sjk 2004. Dg alasan utk pengktnlyn' dana bsr, yg mnrt mrk bisa dpo dgn cr WL. Pdaft dibuka spanj thn terus dn diputarkan dulu sblm wkt kbrngkatn dlm SUN, sukuk dan deposito (smua jngk pndk) hslnya itu utk mbiayai perbaikn lyn',  akom & trans di tn suci, tampaknya legit shg kmenag lupa diri. Antrean yg mkn pnjg disambut umat Islam yg berorientasi bisnis dr travel,  MT, pesantren, ustad, organ Islam bahkan mau dijadikan kpanjangan tgn krn diiming2i gratis utk terjun dibisnis (maaf rasanya mkn menjauh dr praktek ibadah) biro umroh haji, bergeserlah umat, yah drpd nunggu lama, umroh dulu.

Klo keadaan mayoritas umat Islam stidaknya di negeri ini sdh ckp sjhtera,  ya gpp, tp ggsan ini lbh krn manisnya keuntungan bisnis umroh. Dgn promosi ini adl ibadah, mplihatkan ksjhteraan umat, ga usah mikir panjang ms tunggu, rasakan umroh di bln ramadhan,  umat tergoda. Skali lagi: disaat mayoritas umat blm sjhtera kalangan mngh atas digoda, yg pntg sdh zakt, sdh sdkh, klo msh bnyk yg kkurangan bukan tggjwb kami lagi.
Lho?

Tdakkh kita ingin mlih umat ini kuat?  Bbs dr riba yg kini mkn mluas dan korbannya sdr kita juga, mgk jg kita, tertindas utk dpt pkrjaan yg lbh baik dan beribadah krn mayo kita cuma jd kary dan buruh bkn pemilik (ga ckp wkt 😄😄😄)

Umroh yg sbnrnya otomatis kita lalukan ktk haji,  skrg jadi brg mwh yg berkelas2,  jd trend umat yg merasa ingin beribadah sbaik2nya,
  niat pasti sdkt bnyk bergeser,  beli emas dubai,  beli karpet/ sjdah turki, kurma ajwa dll jd standar oleh2. Bgitulah liciknya setan membelokkn pandangan umat Islam, umat yg tersisa msh berpeluang msk surga!

Kita tahu segetol appn pmrth mjaring calhaj hgg 250 jt umat Islam Indonesia saat ini msk daftar tunggu, yg nikmati si Joko utk infrastruktur dan silicik itu sdh siapkn payung hukumnya!

Kuota haji kspakatan OKI, tiap thn hny 1/1000 orang yg berangkat atau kurang dr 10% dlm 1 abad alias seratus tahun! Klo muslim Indonesia skrg ada 200 jt, mk smpi th 2117 hny < 20 jt yg sempat haji. Itulah makna "Bagi yg mampu", begitu bnyk hambatan utk ditulis satupersatu. Niat dan ikhtiar menyisihkan dana seharusnya tak hrs disimpan Krmenag tp ttp disimpan direkg msg2, sdgkn dn utk perbaikan layanan atau utk byr dimuka akomodasi diatas 5 thn gunakan dana abadi umat yg terpisah dr BPIH yg diawasi dg ketat termasuk bgmn agar tidak susut,  Aceh saja bisa menambah living cost jamaahnya hsl dr aset bbrp ulama dan saudagar di tn suci yg diperuntukan al utk itu.

Tentu umroh yg sdh dipoles jd ibadah istimewa jd bisnis yg legit tp mengurangi potensi ekonomi umat utk mandiri. Carilah bisnis yg bisa menyedot uang para kafir utk kesejahteraan umat Islam.

Badan Statistik Saudi: Jumlah Keseluruhan Jemaah Haji 2016 Capai 1.862.909 Orang

(gomuslim). Badan Umum Statistik Saudi mengumumkan bahwa penghitungan jemaah haji telah berakhir pada Ahad, (11/09/2016). Lembaga ini telah mencatat jumlah jemaah haji seluruh dunia tahun ini mencapai 1.862.909 orang. Dari  sekian banyak jemaah, tercatat 1.325.372 orang merupakan jemaah dari luar Saudi adapun selebihnya merupakan jemaah dari Saudi.

Pada tahun ini, tercatat jumlah jemaah haji Saudi mencapai 537.537 orang dari ratusan ribu tersebut tidak semuanya warga Saudi. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Ajel, jemaah haji Saudi terbagi menjadi dua kelompok, pertama, 207.425 orang jemaah haji Saudi merupakan pendatang yang bermukim di Saudi, selanjutnya, 230.112 jemaah lainnya merupakan warga negara Saudi.

Dengan adanya pembagian seperti ini, maka jumlah keseluruhan jemaah haji yang bukan warga Saudi adalah 1.692.417 orang. Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin, jumlah jemaah haji pria mencapai 1.082.228 orang dan jemaah wanita 780.681 orang.

Penghitungan jemaah haji tahun ini dilakukan di sejumlah titik masuk Mekkah  yang mana pada tempat-tempat tersebut berdiri kantor pencatatan jemaah haji. Berdasarkan rute jalan yang ditempuh oleh jemaah untuk sampai ke Mekkah, maka persentase jemaah yang menempuh jalur Jeddah-Mekkah sebesar 35,5 %, jalur Sail-Mekkah sebesar 28,5%, jalur Madinah-Mekkah sebesar 21%, kemudian jemaah yang menempuh jalur Selatan-Mekkah dan Thaif-Mekkah sebesar 15%.

Berdasarkan pencatatan dari Badan Statistik Saudi, jumlah jemaah haji makin meningkat pada tiga hari terakhir sebelum wukuf di mulai tepatnya pada tanggal 7-9 Dzulhijjah. Adapun jumlah kendaraan yag mengangkut jemaah haji lokal tercatat sebanyak 29.169 unit.

Pencatatan yang dilakukan oleh lembaga statistik ini, melibat petugas yang memiliki keahlihan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Kebijakan ini ditetapkan karena, dalam pencatatan termasuk penyampaian informasi tidak ada upaya diskriminasi antara jemaah berkebutuhan khusus dan normal.

Jumlah jemaah haji tahun 2016 menurun dari tahun sebelumnya, pada tahun 2015 jumlah jemaah haji mencapai 1.952.817. Dengan demikian jumlah jemaah haji tahun ini menurun sebanyak 89.908 orang atau sebesar 0,04%. Penurunan ini disinyalir terjadi karena sejumlah jemaah haji ada yang menggagalkan keberangkatan, pemulangan karena tidak memiliki tashrih dan hal lainnya yang menyebabkan kegagalan keberangkatan haji. (fh/ajel)






Akibat Salah Pemahaman Tentang Umrah

Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri telah menetapkan dua direksi PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) sebagai tersangka.

Meraka adalah Andika Surachman sebagai Direktur Utama First Travel dan Anniesa Desvitasari sebagai direktur First Travel.

Dari hasil penyidikan, Bareskrim memperkirakan First Travel telah meraup keuntungan mencapai Rp 550 miliar.

Dana tersebut diduga berasal dari tindak pidana penipuan yang dilakukan terhadap sekitar 35 ribu jemaah yang telah melunasi pembayaran perjalanan ibadah umrah lewat jasa agen sejak 2015.

"Total jemaah yang telah melunasi 70 ribu, tapi sekitar 35 ribu tidak berangkat dengan berbagai alasan," ujar Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di kantor Bareskrim, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017).

Lanjut dia, kalau dihitung kerugian, satu orang Rp 14,3 juta dikali 35 ribu maka kerugian mencapai Rp 550 miliar.

Angka tersebut didapatkan setelah polisi melakukan penghitungan antara biaya yang harus dibayar setiap jemaah untuk melakukan perjalanan ibadah umrah dengan total jemaah yang belum diberangkatkan.

Dari pemeriksaan awal, penyidik Bareskrim menelusuri berbagai rekening dan aset yang dimiliki tersangka.

Namun, berdasarkan sejumlah rekening yang telah diblokir, penyidik hanya menemukan uang sekitar Rp 1,3 juta.

"Yang kita blokir informasi penyidik sisa sudah Rp 1,3 juta. Tapi nanti akan kita cek yang lain," jelas Rudolf.

Dirinya mengungkapkan bahwa pihaknya akan melacak aliran dana pada rekening kedua tersangka.

"Kami akan melakukan tracking pada rekening-rekening, dana-dana yang kemudian lari ke mana, dan aset. Itu pasti kami lakukan dan perkembangan akan diberitahukan," tambah Herry.

Polisi membuka peluang adanya tersangka baru dari kasus dugaan penipuan penyedia jasa perjalanan umrah, First Travel.

"Ya Pasti. Kan kalau kasus (usaha) yang dilakukan secara bersama-sama biasanya ada yang nyuruh ada yang ikut serta, ini akan ada perkembangan," ujar Rudolf.

Herry mengungkapkan bahwa kasus ini bermula dari seminar tentang umrah yang diadakan First Travel.

Dalam seminar tersebut pihak First Travel menawarkan peserta untuk menjadi agen.

"Dalam perjalanan ternyata animo masyarakat cukup besar bahkan dia sempat merekrut agen-agen," jelas Harry.

Agen tersebut kemudian merekrut jamaah itu bisa mencapai 1000 agen namun yang aktif 500 agen.

Agen-agen ini yang mencari jamaah dan menemukan jamaah lalu bertransaksi dengan First Travel.

"Mereka menawarkan paket perjalanan umroh dengan macam-macam paket." tambahnya.

Paket satu disebut paket promo umroh, kedua paket reguler, dan ketiga paket VIP.

Paket promo itu mereka promosikan dengan harga Rp 14,3 juta per jamaah, paket reguler Rp 25 juta dan paket VIP 54 juta.

Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari ditangkap di kompleks perkantoran kemenag RI setelah melaksanakan konferensi pers pada Rabu, 8 Agustus 2017 pukul 14.00 WIB.
Sebelum melakukan penangkapan, polisi melakukan pendalaman terhadap 11 saksi yang terdiri dari agen dan jamaah.

Th 1998 kami pergi haji byr thn H ybs lgs berangkat di musim haji thn H yg sama, wkt pendaftaran terbatas.

Thn 2013 kami sdh terpaksa ikut daftar tunggu menabung sjk 2009, stlh ckp 20 jt,  tab dipindah ke rekg a/n Menag lalu dpt no porsi yi no urut keberangkatan.

Jlh jamaah jd membludak melebihi kuota krn pendaftaran dibuka sepanjang tahun. Shg umat Islam yg termakan logika busuk pemerintah ber-lomba2 setor lbh 2/3 BPIH thn setor utk dpt no porsi. Bg pemeritah yg ptg lbh 2/3 BPIH sdh dlm penguasaan mrk dhi Rekg Menag, jamaah maju kena mundur kena.

Cuma Joko Super Gila. Yg tadinya hny diinvestasi ke SUN, Sukuk dan Deposito (jangka pendek)  dengan alasan aman dan pemerintah butuh dana utk investasi jangka panjang, al utk infrastruktur - toh masa tunggu sdh diatas 10 tahun, selain itu pemerintah perlu biaya untuk perbaikan layanan dll yg biayanya didapat dr hsl investasi tadi. Padahal antrean panjang mereka juga yg bikin dg membuka pendaftaran sepanjang tahun!
Sebenarnya biaya utk itu bisa dibiayai dr dana abadi umat yg terpisah dr BPIH.

Jd sebenarnya pun pemerintah ga punya alasan menahan uang calon jamaah dengan membuka pendaftaran sepanjang tahun yg memang tujuannya krn pemerintah tergiur dgn besarnya potensi. Seharusnya mereka hny buka pendaftaran sekitar 1 bln saja dlm 1 musim haji.
Mrk berdalih sistem lama banyak kecurangan, anehnya bukan sistem kontrol yg dibenahi tp justru mendorong umat buru2 daftar agar no porsinya ga semakin jauh. Setelah setoran itu calon jamaah sdh terikat spt kerbau dicocok hidungnya. 😈😈😈

Sepotong Tentang Kaum Sufi

Adapun kelakuan kaum sufi yang awam atau orang awam lain semisal mereka yang bersujud kepada para ulama atau ahli hadits maka itu adalah perbuatan yang hukumnya haram menurut kesepakatan ulama.
Baik itu dilakukan dalam keadaan suci atau tidak, menghadap kiblat atau tidak.

Banyak dari mereka berkhayal bahwa itu adalah perilaku rendah hati (tawadhu) dan merendahkan diri. Ini kesalahan besar yang nyata. Bagaimana merendahkan diri atau beribadah pada Allah dengan perbuatan yang diharamkan-Nya?

Mungkin mereka berpegang pada firman Allah QS Yusuf :100 "Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf." Ayat ini sudah dihapus hukumnya atau ditakwil sebagaimana sudah dimaklumi dalam kitab-kitab para ulama. Syaikh Abu Amr bin Shalah ditanya soal sujud yang sudah kami jelaskan, lalu ia menjawab, "Itu termasuk dosa besar dan aku kuatir bisa kufur."

Ribut-ribut Patung Dewa Perang Cina Ukuran Raksasa

Saya sedih juga sbgn umat Islam bgitu marah dg patung ukuran jumbo di Klenteng.  Sedihnya krn mereka marah lebih krn terkesan oleh ukuran yg mudah terlihat dr jauh/ luar klenteng bukan soal izin krn saya yakin izin tak sulit diperoleh. Di Jakarta pun kita lihat banyak tugu  yg berbentuk tegak mengerucut atau monumen seperti monas. Istilah patung dan tugu pun jadi rancu.

Wlp definisi patung ukuran besar,  monumen,  tugu agak rancu krn klo dibilang krn bntknya makhluk hidup atau bukan,  juga ga musti gitu,  tp bukan hal aneh. Hny saja makin lama makin banyak dgn aneka bentuk dr yg nyata hgg abstrak.

Dalam Islam,  khususnya yg berbentuk makhluk hidup diharamkan tp kenyataannya negeri ini lbh terasa sbg negeri sekuler, lihat masjid2 yg kosong, atau dgn jamaah yg kebanyakan sdh lemah fisik,  lemah ekonomi, lemah akhlak pula.

Jadi sedih utk apa kita mengurusi patung, berizin atau tidak, di halaman klenteng pula.