Selasa, 15 Agustus 2017

Benar Hebatkah Negara Cina Komunis?, Baca: Roh Jahat Partai Komunis Cina

Semua diawali ketika negara kapitalis yg mmg orientasinya menguasai modal,  terpaksa mencari negara yg bisa sekaligus sbg pasar dan muntahan industri kelas dua ke bwh mrk yg tak mgk lg diproduksi di negeri mrk.

Cina adalah yg plg menarik selain krn populasinya sangat besar, jaringan Cina di dunia juga kuat dan pemerintah otoriter komunis Cina terbukti mampu menekan rakyatnya sampai nadir terendah nilai kemanusiaan sekaligus pada saat yg sama mengumbar nafsu serakah manusia akan dunia.

Wlp ini bisa berbalik menyerang mrk (negara2 kapitalis)  dr sisi keuangan krn devisa yg terkonsentrasi pd Cina, tp mgk mrk merasa msh mmgang kendali krn tumbuh dan besarnya kemampuan ekonomi Cina saat ini tidaklah sama dgn kemajuan yg terjadi di Jepang atau Korea. Jepang dan Korea,  mulai dari meniru kemudian terus menyempurnakannya hingga benar2 menjadi pesaing tangguh. Cina, maju dengan cepat karena menerima muntahan saja,  kebetulan populasinya besar dan kesewenangan pemerintah Cina komunis adalah sistem yang paling tidak bisa dikontrol dunia internasional shg malah dimanfaatkan si kapitalis serakah.

Saat Irlandia Dilanda Kelaparan dan Bantuan Khilafah

Dunia tak akan lupa dengan kejadian ‘The Great Irish Famine’, sebuah bencana hebat, kelaparan dahsyat yang melanda Irlandia sepanjang tahun 1845, yang mengakibatkan kematian lebih dari satu juta orang.

Khilafah Utsmani melalui Sultan Abdulmajid menyatakan niatnya untuk mengirim 10.000 sterling kepada para petani Irlandia, tapi Ratu Inggris hanya meminta agar Sultan mengirim 1000 sterling. Khilafah ustmani juga diam-diam mengirim 3 kapal penuh makanan.

Presiden Irlandia, Mary McAleese ke Turki, dia membuat pernyataan selama pertemuan dengan koleganya dari Turki, ia mengungkapkan kata-kata terima kasih dari orang-orang Irlandia untuk bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh Kekhalifahan Utsmani.

Hari ini, sebuah klub sepak bola Irlandia bernama Drogheda United FC menggunakan logo sabit dan bintang Utsmani dalam peringatan bantuan Turki Utsmani yang disampaikan ke kotanya.

The Westcourt Hotel yang terletak di sebelah ruang di mana pelaut Utsmani dikatakan tinggal di sana setelah memberikan makanan ke kota, menampilkan sebuah plakat yang menyatakan: “The Great Irish Famine 1847 – Untuk mengenang dan pengakuan atas kemurahan hati Rakyat Turki terhadap orang Irlandia.”

Kehilafahan dengan luas sekitar 2/3 dunia telah menjadi saksi keadilan dan kemanusiaan yang ditemukan dalam kekhalifahan. Khalifah akan memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat baik Muslim dan non Muslim

e-KTP, Borok Baru Negeri Ini dan Kematian Johannes Marliem yang Menambah Daftar Kematian Saksi e-KTP

Kematian Johannes Marliem, salah satu saksi perkara korupsi e-KTP, menambah daftar saksi dalam kasus itu yang meninggal. Penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1, yang digunakan dalam proyek e-KTP itu disebut-sebut sebagai saksi kunci dalam kasus tersebut.

Marliem dikabarkan meninggal di Amerika Serikat. Komisi Pemberantasan Korupsi menerima kabar Marliem meninggal pada Jumat, 11 Agustus 2017. "Benar, yang bersangkutan, Johannes Marliem, meninggal dunia, tapi kami belum dapat informasi yang lebih rinci, karena terjadinya di Amerika," kata Febri di gedung KPK, Jakarta, pada Jumat, 11 Agustus.

Marliem sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

Kematian Johannes Marliem, saksi kunci kasus korupsi e-KTP (KTP elektronik) menyisakan banyak misteri. Pria yang dikabarkan bunuh diri ditemukan dengan beberapa luka di tubuhnya, hal yang kurang lazim dalam peristiwa bunuh diri.

Beberapa waktu lalu, KONTAN sempat saling bertukar pesan dengan Marliem. Ketika itu ia sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

" Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam," ujarnya.

" Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media. Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul," imbuh Marliem mengomentari bocornya kepemilikan rekaman pembicaraan terkait pembahasan proyek e-KTP.

Berita yang Marliem maksud ialah soal terbongkarnya bukti berupa rekaman pembicaraan. Padahal, rekaman tersebut sebenarnya tak ingin ia beberkan.

" Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights, harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman," tuturnya.

Bantah Isi Surat Dakwaan

Itu sebabnya, ia sempat mengungkapkan harapannya agar (jurnalis) KONTAN tidak memelintir pemberitaan soal rekaman yang ia anggap sebagai catatan tersebut. Pasalnya, dalam pemberitaan di media sebelumnya, seolah-olah dijelaskan bahwa ketua DPR RI Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka gara-gara rekaman yang ia miliki.

" Jadi tolong jangan diplintir lagi. Saya tidak ada kepentingan soal rekaman. Dan ada rekaman SN (Setya Novanto) atau tidak, saya juga tidak tahu. Namanya juga catatan saya," ucap Marliem.

Marliem juga sempat membantah soal isi surat dakwaan yang menyebut ia sempat memberikan duit US$ 200.000 kepada Sugiharto, mantan pejabat Kemendagri yang sudah divonis bersalah di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Sebagai buktinya, ia memberikan potongan rekaman pembicaraannya dengan Sugiharto. Dalam pembicaraan itu, Marliem hanya ingin memberikan teknologi yang terbaik serta bekerja demi kesuksesan program e-KTP. Harga yang ia berikan kepada konsorsium pun merupakan harga wajar dan tidak digelembungkan seenaknya.

Tak Bisa Main Suap-menyuap

Meskipun perusahaannya berbasis di Amerika Serikat, Marliem menggaransi data kependudukan tidak akan bocor. Pasalnya server dan storage system berada di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.

Lantaran perusahaannya berasal dari negeri Paman Sam itu pula yang menjadi alasan dia tidak bisa main suap-menyuap. " Saya sudah pahit-pahit ngomong di depan, bahwa kami ini perusahaan Amerika. Tidak bisa cawe-cawe. Kami tidak bisa mengeluarkan uang dari perusahaan untuk kepentingan tidak jelas," tuturnya.

Pasalnya, jika melanggar, perusahaanya akan dijerat dengan FCPA (Foreign Corrup Practice Act) dan harus membayar denda besar jika terbukti menyuap. Penerapan aturan ini serupa dengan pidana korporasi yang mulai digunakan KPK akhir-akhir ini.

Dalam kesempatan itu, Marliem juga sempat berkomentar soal kartu-kartu yang dikeluarkan pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, BPJS dan sebaginya. Baginya, kartu tersebut hanya pemborosan anggaran karena hanya plastik yang berisi tulisan. Sementara, e-KTP berisi data biometrik yang sangat valid. Dengan e-KTP, pemerintah bisa memastikan jumlah anggota keluarga, berapa anak yang harus disubsidi.

" KTP-el saat ini sudah siap, mau dijadikan e-Toll bisa, jadi e-money juga bisa. Tapi, karena di sektor-sektor itu sudah dikuasai mafia jadi pemerintah tidak berani ambil keputusan politis," katanya.

Baca: Johannes Marliem, Pemilik 500 GB Rekaman Korupsi E-KTP Meninggal

Sebelum Marliem, ada dua saksi dari kalangan anggota Dewan meninggal. Mereka adalah politikus Partai Demokrat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Ignatius Mulyono, dan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar, Mustokoweni.

Ignatius meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, pada Selasa, 1 Desember 2015. Mantan anggota Komisi III itu meninggal karena penyakit jantung. Sedangkan Mustokoweni meninggal pada Jumat, 18 Juni 2010, di Rumah Sakit Elizabeth, Semarang, Jawa Tengah.

Dalam surat dakwaan Irman dan Sugiharto, baik Ignatius maupun Mustokoweni diduga menerima aliran dana korupsi e-KTP. Ignatius disebut menerima US$ 258 ribu, sedangkan Mustokoweni disebut menerima US$ 408 ribu.

Johannes Marliem disebut sebagai saksi kunci kasus megakorupsi e-KTP karena ia mengantongi bukti pembicaraan para perancang proyek e-KTP selama empat tahun. Ia meyakini rekaman pembicaraan itu dapat menjadi bukti untuk menelisik korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut.

Read more at https://nasional.tempo.co/read/news/2017/08/12/063899336/kematian-johannes-marliem-menambah-daftar-saksi-e-ktp-meninggal#Ty5764Oc11k7T4MU.99

Johannes Marliem merekam seluruh pembicaraan dengan orang-orang yang terlibat proyek e-KTP. Sejak awal pembahasan megaproyek itu, ia telah merencanakan untuk merekam. Dalam dakwaan Irman dan Sugiharto, Marliem disebut sebagai penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek kartu tanda penduduk elektronik.

“Tujuannya cuma satu: keeping everybody in honest,” kata Johannes Marliem, saat diwawancara Tempo, pertengahan Juli 2017 melalui aplikasi video call FaceTime, posisinya  saat itu di Amerika Serikat. Proyek itu kemudian menjadi kasus korupsi e-KTP dengan kerugian negara Rp 2,3 triliun.

Tak main-main, Marliem secara gamblang menyebutkan ia memiliki bukti-bukti keterkaitan orang dengan kasus korupsi e-KTP itu.  “Hitung saja. Empat tahun dikali berapa pertemuan. Ada puluhan jam rekaman sekitar 500 GB,” kata dia. Johannes Marliem bahkan menantang, “ Mau jerat siapa lagi? Saya punya,” ujarnya.

Read more at https://nasional.tempo.co/read/news/2017/08/11/063899198/Johannes-Marliem-Pemilik-500-GB-Rekaman-Korupsi-E-KTP-Meninggal#1IU6rlUxcyyvXV2q.99

MEIKARTA, Kota Jaringan Ekonomi Cina Di Tengah Indonesia

Meikarta, rencana apa yang disembunyikan dari proyek kota besar ini? Itulah pertanyaan hari-hari ini yang menyelinap dalam kesadaran publik. Betapa tidak, tadinya dikira hanya pengembangan biasa dari Cikarang, tapi kemudian menjelma menjadi Meikarta.

Sebelum ramai isu “Kota Demi Cina” yang merupakan plesetan dari Meikarta di Bekasi, sudah muncul berita setahun sebelumnya bahwa Lippo Group lewat anak usahanya PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) menandatangani kerja sama dengan dua Investor Tiongkok, Shenzhen Yantian Port Group Co., Ltd dan Country Garden Holdings Co. Ltd. Ketiga perusahaan ini nantinya akan bersama-sama mendesain dan mengembangkan Kawasan Industri Indonesia Shenzhen Baru di kawasan Lippo Cikarang.

Saat itu belum muncul Meikarta ke telinga publik, baru nama Shenzen Baru. Padahal Shenzen Baru itu ya…Meikarta yang sekarang ini.

Pejabat Lippo menyatakan waktu itu, “Dari 3 ribu ha, ada sisa 20 persen. Maka akan dikembangkan di situ. Ketiganya pun akan kembangkan proyek di Orange County yang luasnya sekitar 322 ha,” papar Stanley.

Setahun setelah pernyataan itu, saat Meikarta sudah dipublikasikan, Direktur Lippo Group Danang Kemayan Jati menegaskan bahwa proyek-proyek Lippo yang telah diluncurkan sebelum Meikarta masih tetap berjalan. Termasuk Orange County, kawasan terintegrasi seluas 322 hektar di Cikarang senilai Rp250 triliun mencakup hunian vertikal dan CBD yang disiapkan akan menjadi bagian dari Meikarta nantinya.

Jadi jelas bukan, bahwa Meikarta hanya judul yang berganti. Proyeknya tetap sama dengan apa yang ditandatangani Lippo dengan dua perusahaan RRC tersebut.

Pertanyaannya sekarang, proyek apa sebetulnya Meikarta ini? Mengapa namanya Meikarta? Apakah ini artinya Kota Mei yang mengingatkan bulan Mei, bulan sakral bagi komunis atau semacam istilah mandarin yang dikombinasikan dengan kata karta, yaitu bahasa lokal lama di Indonesia?

Namun seperti yang ditulis oleh Tirto, “Meikarta” ialah sebuah nama baru yang disematkan oleh CEO Lippo Group, James Riady, untuk megaproyek Kota Baru di Cikarang Bekasi dengan total luas 2.200 hektar, dengan estimasi investasi tak tanggung-tanggung hingga Rp278 triliun.

Pengusaha properti pemilik MSH Group yaitu mantan Menteri Perindustrian, MS Hidayat berujar, “bisnis properti adalah bisnis yang menjual prospek.” Prospek yang sedang dijual itu kini ada di Meikarta yang dikemas dengan nama “Kota Baru” oleh Lippo dengan embel-embel “Shenzhen-nya Indonesia”.

Karena Meikarta adalah menjual prospek, bisa jadi ketika citra kota milik China melekat pada Meikarta, maka di tengah isu kolonialisme China makin sensitif, kota yang kontroversial ini bisa-bisa kehilangan prospeknya.

Seperti yang disebutkan Stanley, adapun inti kerja sama antara perusahaan China dengan Lippo tersebut, memiliki tujuan dari rencana Tiongkok yang ingin memajukan jalur maritim, one belt one road. Dengan rintisan itu, akan membuka kerja sama antara perusahaan Tiongkok dan mitra lokal dalam negeri untuk memajukan industri lokal melalui transfer pengetahuan di antara keduanya.

Perhatikan, one belt one road, itu adalah grand design kebijakan RRC dengan apa yang disebut Jalur Sutera Baru yang bertujuan mengintegrasikan negara-negara di jalur tersebut ke dalam cakupan ekonomi China.

Apakah Indonesia akan untung, tersedot atau malah buntung dengan bersedia terintegrasi ke dalam hisapan ekonomi RRC, hanya anak negeri yang berhak menjawabnya sekarang. (des)

Senin, 14 Agustus 2017

Revolusi Sunyi Erdogan Menuju Kebangkitan Islam

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kepemimpinannya bersama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) bertujuan melayani, bukan menjadi majikan bangsa Turki.

Hal ini disampaikan Erdogan pada hari Selasa (8/8/2017) saat berpidato pada sebuah pertemuan dengan warga Turki di distrik Besikduzu di provinsi Trabzon di sebelah utara. Erdogan menyebut bahwa AKP telah membawa Turki maju selama 15 tahun kekuasaannya.



Peningkatan jumlah sekolah Imam Hatip serta pemberian akses bagi mereka masuk ke perguruan tinggi sepertinya menjadi jalan pintas (shortcut strategy) Erdogan untuk menyediakan SDM alternatif setingkat middle management.

Dalam rentang 5-10 tahun, mereka akan mengisi kekosongan lapis tengah birokrasi setelah menyelesaikan studi berdasarkan jurusan yang dipilihnya, tidak hanya terbatas di lingkungan kementerian agama (Diyanet) saja.

Konversi sekolah Imam Hatip juga menjadi strategi efektif lainnya untuk meningkatkan jumlah dan cakupan sekolah agama ini pasca Kudeta 1997. Jumlah sekolah bertambah dan pendidikannya dapat ditempuh mulai setara tingkat menengah pertama.

Seiring berlakunya kewajiban pendidikan agama bagi usia wajib sekolah, maka otomatis terjadi konversi besar-besaran sekolah Imam Hatip yang tadinya masuk dalam kategori pendidikan non formal (vocational school) menjadi sekolah formal.

Sejak AK Parti berkuasa di 2002, terjadi peningkatan secara signifikan jumlah murid Imam Hatip, sekitar 90 persen atau 1 juta siswa, hampir 10 persen dari jumlah total anak wajib sekolah.

Pada 2012, pemerintah mengenalkan sistem pendidikan wajib, yang dikenal dengan 4+4+4. 4 tahun untuk pendidikan dasar, 4 tahun pendidikan menengah dan setelah itu, 4 tahun berikutnya, siswa diberi kesempatan pilihan untuk memilih jurusan pendidikan umum atau agama. Dalam skema baru ini, kira-kira 40 ribu siswa di sekolah pemerintah secara otomatis terdaftar sebagai siswa sekolah Imam Hatip.

Sebagai sebuah transformasi strategi Erdogan terhitung brilian. Konsep sekularisme Kemal mengakar di Turki. Mustafa Kemal dalam akal mayoritas rakyat Turki -selain dikenal sebagai pendiri Republik, juga pahlawan bagi rakyat Turki. “Jangan mengkritik langsung Ataturk didepan rakyat Turki,” nasehat mahasiswa Indonesia. Bagi saya, saran itu bukannya berlebihan. Dalam buku kurikulum sekolah di Turki, dua lembar setelah sampul depan selalu disisakan untuk gambar dan pidato Kemal Ataturk. Dan, setiap hadir di sekolah, diwajibkan ‘berjanji’ didepan fotonya untuk menjadi warga Turki yang baik.

Transformasi Erdogan membutuhkan waktu satu dekade. Dalam rentang itu, Erdogan secara formal tidak pernah mencela atau menantang dominasi Kemalisme. Bahkan, Erdogan menyatakan menerima prinsip-prinsip sekularisme tentu dengan interpretasinya. Sebaliknya, dia fokus pada sektor lain, perbaikan ekonomi dan kinerja pemerintah demi merebut kepercayaan dan hati rakyat.

Saya bertemu dengan seorang pemuda di dekat lapangan Hagia Sophia,-katakanlah- setipe generasi sekuler karena tidak sholat dan minum alkohol. Dia juga mengatakan tidak akan memilih dalam pemilu mendatang, karena benci politik. Hanya saja uniknya, dia mengatakan dirinya cukup waras ‘membela’ Erdogan ketimbang Kemal Kilicdaroglu. “Ekonomi membaik dan Turki yang kuat,” demikian kurang lebih alasannya.

Citra positif dan dukungan suara mungkin target yang dibutuhkan Erdogan dan AK Parti sehingga menang pemilu tiga kali berturut-turut. Dalam konteks itu, proses reformasi konstitusional terjadi. Amandemen UU pendidikan 2012 menjadi titik tolak reformasi di sektor pendidikan karena mengakhiri secara simbolik kontruksi sekularisme anti agama. Bukannya tanpa resistensi ataupun protes, namun masyarakat tampaknya cukup nyaman dengan kondisinya dan tidak terlalu tertarik dengan aksi tersebut. So What?

Simbol Kemalisme yang Memudar

Hanya saja, ada fenomena menarik yang saya amati disepanjang kunjungan saya di situs-situs utama peninggalan Usmani, seperti Topkapi, Hagia Sophia dan museum teknologi Islami. Dalam 3 hari berbeda, saya menjumpai banyak anak-anak dari pelbagai sekolah di Turki mengunjungi tempat tempat tersebut. Dapat dikatakan, mereka rombongan turis terbesar kedua disana.

Hal serupa juga terjadi di Panorama 1345, museum diorama yang dibangun khusus pemerintah Erdogan untuk mengabadikan sejarah penaklukan Muhammad al Fatih. Gambar tiga dimensi, dentuman meriam dan dentingan suara pedang hampir secara sempurna menggambarkan heroisme Turki. Beberapa hari pasca peringatan, museum tersebut masih dipadati pengunjung dan sebagiannya anak-anak sekolah.

Bukan semata kebetulan, jika saya melihat benang merah dari semua hal tadi. Tampak kuat konstruksi sistemik Erdogan dalam reformasi pendidikan versinya. Jika konstruksi sekuler sebelumnya mewajibkan siswa mengikuti mata pelajaran sejarah Mustafa Kemal, maka Erdogan sebaliknya mengenalkan kembali simbol baru Turki yang berasal dari akar dan kebanggaan sejarah mereka sendiri, yakni Muhammad al Fatih, Sang penakluk.

Hanya saja, tidak untuk menegasikan eksistensi Kemal Ataturk, karena faktanya tradisi foto dan janji kepada Ataturk masih ada, namun Erdogan secara evolutif memberikan alternatif sosok baru yang dipandang tepat bagi Turki yang kuat di masa depan.

Erdogan sepertinya hendak membangun memori baru rakyat Turki dengan sosok idola baru dimata rakyat, bukan dirinya- namun tokoh kuat, bahkan lebih kuat dari Kemal sendiri. Dari sosok ini melekat citra kuat yang relevan dengan misi Erdogan membentuk generasi relijius. Menyoal Muhammad al Fatih, maka otomatis juga membincangkan Islam karena dalam kenyataannya, perjalanan hidup sang legenda menjadi perjalanan cita-cita dan harapan Islam.

“Penakluk Konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan,” demikian puji Nabi SAW. Pesan politik yang sangat kuat, karena dalam konteks kesejarahan, rakyat Turki pasti akan mengatakan bahwa mereka adalah keturunan sebaik-baiknya pemimpin dan sekuat-kuatnya pasukan.

Jika demikian, saya melihat Erdogan hendak menanamkan akal baru atau setidaknya pesan baru bagi rakyat Turki dan khusunya, murid-murid sekolah dasar di Turki. Erdogan sedang berinvestasi masa depan. Setidaknya 20 tahun depan, generasi relijius akan menjadi fenomena utama dan jamak di masyarakat.

Jika terjadi, maka pencapaian tersebut layak disebut ‘the greatest silent revolution'. Revolusi tanpa berisik. Erdogan sukses melakukan revolusi dukungan dan preferensi politik rakyat, maka tahap berikutnya, ditunggu revolusi akal dan pikiran baru rakyat. Wallahu A’lam.

Menyedihkan, Skema Pembiayaan LRT Pakai Dana Haji

VIVA.co.id – Investasi dana haji ke proyek-proyek infrastruktur bakal direalisasikan pemerintah dalam waktu dekat. Sejumlah proyek infrastruktur menanti kucuran investasi dana umat itu, mulai dari proyek pembangkit listrik hingga bandara. 

"Kalau LRT, mekanismenya dengan sukuk, masih memungkinkan. Jadi saya sudah sarankan kepada Badan Pengelola Keuangan Haji, kalau ingin masuk infrastruktur, jangan langsung dulu. Tapi melalui instrumen sukuk untuk proyeknya," kata Bambang ditemui di sela acara Indonesia Development Forum (IDF) di Westin Hotel, Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, bisa saja dana haji yang konteksnya dana jangka panjang itu diinvestasikan ke proyek LRT, yang juga merupakan investasi proyek jangka panjang tersebut. 

"Kalau LRT, mekanismenya dengan sukuk, masih memungkinkan. Jadi saya sudah sarankan kepada Badan Pengelola Keuangan Haji, kalau ingin masuk infrastruktur, jangan langsung dulu. Tapi melalui instrumen sukuk untuk proyeknya," kata Bambang ditemui di sela acara Indonesia Development Forum (IDF) di Westin Hotel, Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Menurut Bambang, sukuk tersebut akan dikeluarkan oleh proyek itu sendiri yang mekanismenya nanti akan dibeli dari dengan haji. Skema ini merupakan sah satu osi dari project financing

"Bisa (dana haji ke LRT). Sukuknya dikeluarkan oleh proyeknya, itu namanya project financing," tutur dia. 

Bambang pun mengakui, pengelolaan dana haji perlu legalitas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional (DSN). Saat ini masih disebutkannya sudah payung hukum dari Dewan Syariah Nasional.

"Yang penting instrumen sukuk itu strukturnya sudah sesuai dengan syariah. Itu yang dikeluarkan oleh DSN. Kalau OJK cuma bilang, bahwa surat berharga yang namanya sukuk ini sudah sesuai dengan kriteria sektor keuangan," tutur dia. 

Seperti diketahui, pengalihan dana haji sebesar Rp96,29 triliun beserta Dana Abadi Umat (DAU) akan diserahterimakan kep/ada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) secara bertahap.

Seluruh dana haji yang tepatnya berjumlah Rp96,29 triliun dan DAU sebesar Rp3,05 triliun, diserahkan Kementerian Agama bertahap pada Agustus dan Oktober 2017 kepada BPKH. 

Minggu, 13 Agustus 2017

Asal Usul Dinasti Saudi

MELACAK DINASTI IBNU SAUD PERAMPOK TANAH HIJAZ,PRAMPOK KEKUASAAN KE KHALIFAHAN ISLAM

Oleh Von Edison Alouisci

Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di “Ad- Dir’iyah”, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744 M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.

Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mencegah prilaku bid’ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode
awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.

Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M. Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini.

Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern, yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.

Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.

Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin Kerajaan Saudi Arabia. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

IBNU SAUD BERASAL DARI KELUARGA YAHUDI

Kronologi sejarah awal keluarga ibnu saud :

Di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H. Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe,

Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu. “Dari manakah anda berasal?” Mereka
menjawab, ”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.” Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.

Setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis. Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.

Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut bersama mereka, kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.

Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.

Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin. Katanya, “Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun.”

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya, yang berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.

Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir’iya, sebuah nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.

Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.

Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin al-Tamimi, kepala perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar 35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.

Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek
moyangnya!

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran ,di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat
anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini. Dan inilah PERUBAHAN DARI SISTEM KE KHALIFAHAN KELUARGA KETURANAN NABI MENJADI KERAJAAN DINASTI YAHUDI ATAS NAMA ISLAM. DENGAN NAMA BARU "SAUDI ARABIA"

Beberapa kesaksian bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi:
Pada tahun 1960,”Sawt Al Arab”, sebuah stasiun TV di Kairo, Mesir dan satu stasiun TV Yaman di Sana`a telah
mempublikasikan bahwa Keluarga Saudi adalah keturunan Yahudi.

Raja Faisal Al-Saud menyatakan bahwa “Kami Keluarga Saud adalah saudara Yahudi. Kami tidak setuju dan menentang siapa saja dan para penguasa di Semenanjung Arab ini yang menunjukkan pertentangan terhadap Yahudi. Kita mestilah hidup bersama mereka dengan kasih sayang. Negara kami (Arab Saudi) juga merupakan cikal bakal dari keturunan Yahudi dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia. Ini merupakan deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Dan tidak heran Jika Mesir yang dulunya membela kekhalifahan berbalik membenci Dinasti saud dan wahabi salafi ini di ikrarkan dalam naskah al ahzar tahun 2010 bahwa dinasti saud dan paham paham wahabi adalah sebuah ancaman global Islam dan harus di tentang apapun caranya. Intaha.

Jika orang memahami sejarah ini yang sebenarnya amat panjang.. maka ia akan berfikir bahwa ' HIJAZ YANG DULU BUKAN YANG SEKARANG, CARA PEMIMPIN YANG DULU BUKAN YANG SEKARANG'

Anda mesti tahu.. mulai masa Rasulullah.. sahabat.. tabiin.. tabiun.. kekhalifahan berikutnya.. setelah sahabat.. yang namanya Makam Suhada perang Uhud (al baqi yang sering di ziarahi nabi) dan beberapa bangunan bersejarah.. TIDAK ADA YANG HANCUR bahkan dijaga dengan baik.

Begitu.. Ibnu saud jadi raja..muhammad bin abdul wahab jadi imam wahabi salafi.. maka semuanya hancur ! berganti dengan bangunan bangunan modern diatas fakta sejarah keemasan islam.. hanya dengan yel yel syirik.. bid`ah dan kafir.

jika emang berpontesi demikian kenapa tidak hancurkan saja sekalian gunung,lautan, gua gua.. macam gua hira ?? bukan kah berpotensi syirik ??

bagiku wahabi itu "hama Tikus perusak tanaman" intaha

sumber : berbagai sumber termasuk keberanian dari pengakuan sekher dalam min alaina wa alaina yang mengutip dari dalam istana kerajaan tentang kitab keluarga sejarah Ibnu saud. ( saya punya bukunya versi arab )

BEBAS SHARE !!.(etika )

By. Von Edison Alouisci
kingstnes street : 2.4.2015

Pada tahun 851 H, sekumpulan pria dari Bani Al Masaleekh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, seorang Yahudi. Ketika sedang terjadi proses tawar menawar,yahudi itu bertanya kepada mereka “Dari mana Anda berasal?”

Mereka menjawab,"Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masaleekh."

Setelah mendengar nama itu , yahudi itu menjadi gembira dan juga mengakui dia berasal dari kaum keluarga yang sama,tetapi terpaksa tinggal di Basra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.

Dia kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masaleekh itu, dan menunjukkan kegembiraan mereka karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Mereka adalah sumber pendapatan, relasi bisnis baginya (Yahudi). Mereka adalah para saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyikan di balik roman muka Arab dari kabilah Al-Masaleekh.

Apabila rombongan itu hendak bertolak ke Najd, para saudagar Yahudi tersebut meminta izin mereka untuk menemani mereka, kerana dia ingin pergi bersama mereka ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar tawaran lelaki Yahudi itu, mereka amat berbesar hati dan menyambut mereka dengan gembira.

Akhirnya,Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan saudara sepupunya yang keturunan Bani Al-Masaleekh tadi. Setelah itu, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syekh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharismatik dari distrik Al-Qaseem.

Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz. Karena suatu alasan, Yahudi itu (yang menurunkan Keluarga Saud itu) berpindah dari Al Qaseem ke Al Ihsa. Di sana, dia mengubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menetap di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa pedang Nabi Saw. telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin.

Katanya “Pedang itu telah dijual oleh arab musyrikin kepada kabilah kaum yahudi bernama Banu Qunaiqa yang menyimpannya sebagai harta karun. Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iyya, yang berdekatan AL- QATEEF. Di daerah ini ingin dia jadikan sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai batu loncatan untuk mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab.

Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk memantapkan lagi posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iyya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar yahudi itu dan menawannya, namun dia berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi dari Keluarga Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibeed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh.

Dia meminta suaka kepada pemilik ladang tersebut agar menyembunyikan dan melindunginya.Tuan ladang itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung.Tetapi kemudiannya yahudi itu (Mordakhai) ,hanya tinggal selama sebulan di rumah itu, setelah yahudi itu membantai habis si tuan ladang dan keluarganya. Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air tuba!!. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli ladang tersebut dari tuan tanah sebelum katastropi pembantaian tersebut datang kepada mereka! Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir’iyya, sebuah nama yang sama dengan tempat yang pernah dimilikinya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syekh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syeikh Saleh Salman Abdulla Al-tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Saleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iyya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.

Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir'iyya…
Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka . Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksi mereka. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masaleekh.

Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin al-Tamimi, kepala perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar 35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secara simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.

Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.

Keturunan Saud melancarkan kampanye dan propaganda pembunuhan terhadap ketua-ketua kabilah Arab yang berada di bawah kekuasaannya dan mencap mereka sesat, telah meninggalkan ajaran Al-Qur'an, dan menyeleweng dari ajaran Islam. JADI MEREKA BERHAK UNTUK DIBUNUH OLEH KELUARGA SAUDI !!

Dalam sebuah buku tentang sejarah Keluarga Saudi hal. 98-101, ahli sejarah keluarga mereka telah mempopulerkan bahawa Dinasti Saud mendakwa semua penduduk Najd adalah kafir, maka darah mereka adalah halal, mereka berhak dibantai, harta mereka dirampas, wanita mereka dijadikan budak seks. Seseorang muslim tidak benar benar Muslim jika tidak mengamalkan ajaran yang berasal dari MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (yg sebenarnya seorang Yahudi yang berasal dari Turki).

Ajaran dan doktrinnya memberikan kuasa kepada Keluarga Saudi untuk membumihanguskan kampung-kampung mereka. Mereka membunuh para suami dan anak-anak, merampas para istri, menikam perut wanita hamil, memotong tangan anak mereka dan kemudian membakar mereka!! Ditambah justifikasi doktrin faham wahabi bagi mereka untuk seenak pusernya sendiri membajak dan merampas harta penentang mereka.

Keluarga Yahudi ini telah melakukan banyak kezaliman dibawah panji ajaran Wahabi yang dicipta oleh Mordakhai untuk menyemai benih kekejaman di hati manusia. Dinasti Yahudi telah melakukan aksi kebiadaban sejak 1163 H . Sampai-sampai mereka telah menamakan semenanjung tanah Arab dengan nama keluarga mereka (Arab Saudi) sebagai sebuah negara kepunyaan mereka, dan semua penduduk Arab adalah hamba mereka, bekerja keras untuk kemewahan mereka (Keluarga Saudi).

Mereka telah menghak milikkan semua kekayaan negara tersebut sebagai harta pribadi. Jika ada yang berani mengkritik undang-undang dan peraturan buatan “rezim tangan besi” Dinasti Yahudi tersebut, pihak penguasa tak segan-segan memenggal kepala pengkritik di depan khalayak. Disebutkan bahwa salah seorang puteri mereka melewati masa liburnya dengan plesiran ke Florida, Amerika Serikat bersama para pembantu dan penasihatnya. Dia menyewa 90 kamar mewah (suite) di Grand Hotel dengan tariff satu juta dolar per malam!!! Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya!!

Beberapa kesaksian bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi:

Pada tahun 1960,”Sawt Al Arab… Lihat Selengkapnya”, sebuah stasiun TV di Kairo, Mesir dan satu stasiun TV Yaman di Sana`a telah mempublikasikan bahwa Keluarga Saudi adalah keturunan Yahudi.

Raja Faisal Al-Saud pada masa itu tidak dapat menafikan bahwa keluarganya sangat berbaik hati kepada Yahudi. Bahkan di Koran Washington Post, tanggal 17 September 1969 dia menyatakan bahwa “Kami Keluarga Saud adalah saudara Yahudi. Kami tidak setuju dan menentang siapa saja dan para penguasa di Semenanjung Arab ini yang menunjukkan pertentangan terhadap Yahudi. Kita mestilah hidup bersama mereka dengan kasih sayang. Negara kami (Arab Saudi) juga merupakan cikal bakal dari keturunan Yahudi dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia. Ini merupakan deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafez Wahbi, seorang anggota dewan penasihat Kerajaan Saudi menyatakan dalam bukunya yang bertajuk “Semenanjung Tanah Arab” bahwa Raja Abdul Aziz Al-Saud sebelum meninggal pada tahun 1953 telah menyatakan bahwa ”Ajaran kami (paham wahabi) mendapat tentangan dari seluruh kabilah Arab. Kakek kami Saud Awal, telah memenjarakan ketua kabilah Matheer. Apabila datang ketua kabilah lainnya yang berkeinginan membebasakan ketua kabilah Matheer, Raja Saud Awal memerintahkan supaya para tentaranya memenggal kepala mereka. Bahkan Raja Saud Awal mencoba memalukan mereka dengan menjemput mereka untuk diundang makan dari tempat duduk yang dibuat dari daging mangsa yang telah dipenggal, dimana kepala-kepala mereka diletakkan diatas pinggan makanan. Rombongan tersebut menjadi sadar dan enggan memakan danging saudara mereka, kemudian dia memerintahkan para tentara untuk memenggal kepala rombongan itu juga. Tindak pidana yang sungguh bengis dan tak manusiawi ini dilakukan oleh Raja Saud Awal terhadap manusia-manusia tak berdosa hanya karena mereka menentang kebijakan despotisnya..

Hafez Wahbi menyatakan lebih jelas lagi bahawa Raja Abdul Aziz Al-Saud teramsuk salah satu orang yang harus bertanggung jawab dan berkaitan erat dengan drama pembantaian ketua-ketua Kabilah Matheer yang bermaksud menjenguk Faisal Al-Darweesh, salah satu tahanan Raja Saud. Dia menyeru agar warga dari Kabilah Matheer lainnya mengurungkan maksudnya untuk membebaskan pemimpin mereka, jika mereka bersikukuh mereka akan bernasib sama seperti pemimpinnya, yakni kepala mereka akan dipenggal. Dia telah membunuh Syekh tersebut dan menggunakan darahnya untuk berwudu` sebelum menunaikan shalat. Kesalahan Faisal Al-Darweesh pada waktu itu adalah mengkritik Raja Abdul Aziz Al-Saud karena Raja Saudi itu bersedia menandatangani sebuah dokumen perjanjian dengan pihak kolonial Inggris, tahun 1922 bertempat di Al-Aqeer. Dokumen perjanjian itu berisi penyerahan Negara Palestina kepada Yahudi.

Inilah politik kebijakan Rezim ini yang masih terus diamalkan oleh Keluarga Yahudi. Kredo gerakan mereka adalah merampas harta kekayaan negara lain, merompak, menipu dan melakukan pelbagai jenis kekejaman ,kezaliman,dan kekufuran- semua itu dilakukan bekerjasama dengan agama yang mereka cipta –Wahabi- yang membenarkan pemenggalan kepala penentang mereka.

(Diterjemahkan secara bebas oleh عبدالرحيم الثوري dari sebuah naskah berbahasa Arab berjudul “Aly Sa’ud, Min Aina ? wa Ilaina?” yang ditulis oleh Muhammad Sakher dan merupakan hasil Penelitian dan Penelusuran Mohammad Sakher, seseorang yang akhirnya dibantai oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan ini)

Teks asli bisa di download di http://www.mediafire.com/?2amgtelyjh